Dunia IslamOrganisasi OtonomPemuda MuhammadiyahTajuk Utama

Urgensi Pemikiran Moderat dalam Bermuhammadiyah: Mewujudkan Islam Berkemajuan yang Berkeadaban


Oleh : Imam Sholehudin, S.Kom.

Pendahuluan

Muhammadiyah merupakan gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar, dan tajdid yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1912. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah mengembangkan corak keberagamaan yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah maqbulah dengan pendekatan yang rasional, berkemajuan, serta berorientasi pada kemaslahatan umat. Dalam konteks tersebut, sikap moderat atau wasathiyah menjadi salah satu karakter penting yang harus dimiliki oleh warga Muhammadiyah.

Pemikiran moderat dalam bermuhammadiyah bukanlah sikap kompromistis terhadap prinsip-prinsip agama, melainkan kemampuan untuk menempatkan ajaran Islam secara proporsional, adil, dan seimbang. Moderasi merupakan pengejawantahan dari ajaran Islam yang menghindarkan umat dari sikap ekstrem, baik dalam bentuk fanatisme berlebihan maupun liberalisme yang mengabaikan nilai-nilai syariat. Oleh karena itu, pemikiran moderat menjadi fondasi penting dalam mewujudkan cita-cita Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan.

Landasan Teologis Moderasi dalam Islam

Konsep moderasi memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman:

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang wasath (tengah, adil, dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas perbuatan kamu.”

(QS. Al-Baqarah 143)

Ayat tersebut menegaskan bahwa karakter umat Islam adalah ummatan wasathan, yaitu umat yang menampilkan keseimbangan, keadilan, dan kematangan dalam berpikir maupun bertindak.

Selain itu, Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, ketika menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”

(QS. Al-Maidah 8)

Rasulullah saw. juga mengingatkan umatnya agar menjauhi sikap berlebihan dalam beragama:

“Jauhilah sikap berlebih-lebihan dalam agama, karena sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan dalam agama.”

(HR. Ahmad, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Dalil-dalil tersebut menunjukkan bahwa moderasi merupakan bagian integral dari ajaran Islam dan bukan konsep yang berasal dari luar tradisi Islam.

Moderasi dalam Perspektif Ideologi Muhammadiyah

Dalam dokumen resmi Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM), ditegaskan bahwa Muhammadiyah bekerja untuk terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Upaya tersebut dilakukan melalui dakwah dan tajdid yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah serta dilaksanakan secara bijaksana sesuai perkembangan kehidupan masyarakat.

Selanjutnya dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) disebutkan bahwa warga Muhammadiyah dituntut untuk memiliki sikap tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), i’tidal (adil), dan tawazun (seimbang) dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi etika sosial Muhammadiyah dalam membangun kehidupan yang harmonis dan berkemajuan.

Gagasan moderasi juga sejalan dengan konsep Islam Berkemajuan yang menempatkan Islam sebagai agama yang membawa pencerahan (tanwir), kemajuan peradaban, dan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia.

Pentingnya Pemikiran Moderat dalam Bermuhammadiyah

1. Menjaga Keseimbangan antara Purifikasi dan Dinamisasi

Salah satu karakter Muhammadiyah adalah menjalankan fungsi tajdid yang meliputi dua dimensi sekaligus, yaitu purifikasi (pemurnian) dan dinamisasi (pembaruan). Purifikasi diperlukan untuk menjaga kemurnian aqidah dan ibadah sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah, sedangkan dinamisasi diperlukan agar Islam mampu memberikan jawaban atas berbagai persoalan kontemporer.

Tanpa pemikiran moderat, seseorang dapat terjebak pada formalisme keagamaan yang kaku atau sebaliknya terjebak pada relativisme yang mengikis prinsip-prinsip dasar agama.

2. Menguatkan Ukhuwah Islamiyah dan Persatuan Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang sangat majemuk, baik dari aspek agama, budaya, maupun organisasi keagamaan. Dalam kondisi demikian, warga Muhammadiyah dituntut untuk mengembangkan sikap inklusif dan dialogis.

Moderasi memungkinkan terbangunnya ukhuwah Islamiyah tanpa harus menghilangkan identitas dan keyakinan masing-masing. Sikap ini sejalan dengan komitmen Muhammadiyah untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

3. Mengembangkan Tradisi Keilmuan dan Ijtihad

Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan yang menghargai ilmu pengetahuan. Tradisi tarjih yang dikembangkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid menunjukkan bahwa perbedaan pandangan diputuskan melalui argumentasi ilmiah, bukan fanatisme kelompok.

Pemikiran moderat mendorong warga Muhammadiyah untuk bersikap terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan hasil ijtihad kontemporer selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat.

4. Mewujudkan Dakwah yang Mencerahkan

Gerakan dakwah Muhammadiyah dikenal dengan istilah Dakwah Pencerahan. Dakwah semacam ini hanya dapat terwujud melalui pendekatan yang moderat, santun, dan solutif.

Allah Swt. berfirman:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”

(QS. An-Nahl 125)

Ayat tersebut mengajarkan bahwa dakwah harus dilakukan dengan kebijaksanaan, bukan dengan kekerasan verbal ataupun sikap yang menimbulkan perpecahan.

5. Menangkal Ekstremisme di Era Digital

Era digital menghadirkan kemudahan akses informasi, tetapi sekaligus membuka ruang penyebaran paham ekstrem dan disinformasi keagamaan. Pemikiran moderat membantu warga Muhammadiyah mengembangkan budaya tabayyun, literasi digital, dan berpikir kritis.

Karakter ini sangat penting agar generasi muda Muhammadiyah tidak mudah terpengaruh oleh narasi kebencian, sikap takfiri, maupun polarisasi yang bertentangan dengan spirit Islam rahmatan lil-‘alamin.

Moderasi sebagai Manifestasi Islam Berkemajuan

Dalam paradigma Muhammadiyah, Islam Berkemajuan bukan sekadar slogan, melainkan pandangan keislaman yang memadukan kemurnian ajaran dengan orientasi kemajuan peradaban. Moderasi menjadi instrumen penting dalam mewujudkan cita-cita tersebut karena memungkinkan lahirnya umat yang:

  1. Kokoh dalam aqidah.
  2. Benar dalam ibadah.
  3. Luas dalam wawasan.
  4. Bijaksana dalam menyikapi perbedaan.
  5. Aktif memajukan pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan kehidupan sosial.
  6. Berkontribusi bagi kemanusiaan universal.

Karakter seperti inilah yang menjadi ciri khas kader dan warga Muhammadiyah sebagaimana dicita-citakan oleh para pendiri Persyarikatan.

Penutup

Pemikiran moderat merupakan kebutuhan mendasar dalam bermuhammadiyah. Moderasi tidak berarti melemahkan prinsip-prinsip Islam, tetapi justru merupakan cara terbaik untuk mengimplementasikan ajaran Islam secara utuh, adil, dan berkemajuan. Dengan berlandaskan Al-Qur’an, Sunnah, serta nilai-nilai yang tertuang dalam MKCHM, PHIWM, dan paradigma Islam Berkemajuan, warga Muhammadiyah diharapkan mampu menjadi pelopor dakwah yang mencerahkan, memperkuat persatuan umat, dan menghadirkan kemaslahatan bagi bangsa serta kemanusiaan semesta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *