Kabar PC Muhammadiyah SukajadiKegiatan MuhammadiyahTajuk Utama

Prof. Yadi Janwari di PCM Sukajadi: Lima Kunci Kekuatan Muhammadiyah Bertahan Melintasi Zaman

BANDUNG (22/11/2025) – Suasana khidmat menyelimuti pengajian refleksi Milad ke-113 Muhammadiyah yang digelar oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sukajadi, Kota Bandung, pada Sabtu, 22 November 2025. Acara ini dihadiri oleh tokoh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Bandung, jajaran pimpinan PCM, Pimpinan Ranting (PRM) se-Sukajadi, serta ratusan warga dan simpatisan Muhammadiyah.

Pengajian ini menjadi momentum istimewa untuk memperkuat ideologi sekaligus merayakan pencapaian organisasi di tingkat nasional.

Syukuri Prestasi, Fokus Membangun Masyarakat Ketua PCM Sukajadi, Rachmat Sonjaya, S.AP., dalam sambutannya mengajak seluruh warga Muhammadiyah Sukajadi untuk berpartisipasi aktif memeriahkan gebyar Milad ke-113. Ia juga menyampaikan kabar gembira terkait capaian PCM Sukajadi yang baru saja meraih predikat Juara Harapan 1 Kategori PCM Unggulan Tingkat Nasional 2025.

“Capaian ini patut kita syukuri, namun kami berharap ke depannya PCM Sukajadi dapat meraih prestasi yang lebih baik lagi. Yang terpenting, penghargaan ini menjadi motivasi bagi kita untuk berperan lebih aktif dan nyata dalam membangun masyarakat Indonesia yang berkemajuan,” ujar Rachmat.

Lima Fondasi Kekuatan Muhammadiyah Tausiyah utama disampaikan oleh Prof. Dr. H. Yadi Janwari, M.Ag., Anggota Pleno PWM Jawa Barat sekaligus Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dalam paparannya, Prof. Yadi mengulas analisis James L. Peacock, antropolog dari University of North Carolina, mengenai fenomena eksistensi Muhammadiyah yang mampu bertahan kokoh hingga usia 113 tahun.

Menurut Prof. Yadi, ada lima faktor kunci mengapa Muhammadiyah mampu melewati berbagai rintangan zaman:

  1. Konsisten pada Gerakan Tajdid: Muhammadiyah menyeimbangkan Purifikasi (pemurnian ajaran Islam) dengan Modernisasi (penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi).
  2. Sistem Organisasi yang Kuat: Dibangun di atas aturan dan regulasi yang jelas, bukan bergantung pada figur perorangan semata.
  3. Diisi Insan Cerdas: Digerakkan oleh orang-orang yang memiliki kecerdasan intelektual, emosional, sosial, dan spiritual.
  4. Islam Amaliah (Praktis): Paham keislaman di Muhammadiyah tidak terjebak pada narasi atau retorika, melainkan langsung mewujud dalam amal usaha. Inilah sebabnya mubaligh Muhammadiyah dikenal minim bicara tapi banyak bekerja.
  5. Hadir untuk Bangsa: Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) didirikan untuk melayani seluruh masyarakat tanpa sekat, demi membangun peradaban bangsa.

“Tanamkan kelima pemahaman ini dalam diri kita saat ber-Muhammadiyah,” pesan Prof. Yadi kepada jamaah.

Makna “Kesejahteraan” dalam Tema Milad Menyinggung tema Milad ke-113 “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”, Prof. Yadi menjelaskan latar belakang filosofisnya. Ia mengungkapkan bahwa pada Tanwir Muhammadiyah 2024 di Kupang, tema awal yang diusulkan adalah “Kemakmuran”. Namun, istilah tersebut dinilai terlalu berorientasi materi.

“Muhammadiyah kemudian memilih kata ‘Kesejahteraan’. Jika kemakmuran ukurannya materi, maka kesejahteraan ukurannya adalah kebahagiaan yang holistik. Ini mencakup kemapanan finansial, kestabilan sosial, hingga ketenangan spiritual,” jelasnya.

Rangkaian acara pengajian ditutup dengan momen berbagi kebahagiaan, berupa pembagian bingkisan kadeudeuh kepada para karyawan di lingkungan PCM Sukajadi sebagai wujud apresiasi organisasi.

(Iwan/MPI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *