Islam Kosmopolitan dalam Perspektif Muhammadiyah: Manifestasi Islam Berkemajuan dan Kemanusiaan Universal
Oleh : Imam Sholehudin
Pendahuluan
Memasuki era globalisasi, umat Islam dihadapkan pada tantangan untuk berinteraksi dengan dunia yang semakin terbuka, plural, dan saling terhubung. Dalam konteks ini, Muhammadiyah menawarkan paradigma keislaman yang tidak hanya berorientasi pada kehidupan internal umat Islam, tetapi juga pada kemanusiaan universal. Paradigma tersebut dapat dipahami melalui konsep Islam kosmopolitan yang tumbuh dari tradisi tajdid Muhammadiyah dan menemukan bentuk aktualnya dalam gagasan Islam Berkemajuan.
Meskipun istilah “kosmopolitanisme” tidak secara eksplisit menjadi dokumen ideologis resmi Muhammadiyah, substansi pemikirannya dapat ditemukan dalam orientasi gerakan Muhammadiyah yang melampaui batas etnis, bangsa, dan kelompok demi mewujudkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil-‘alamin. Pandangan ini semakin dipertegas oleh Haedar Nashir yang menyatakan bahwa kosmopolitanisme Muhammadiyah merupakan kesadaran tentang kesatuan umat manusia yang melampaui sekat-sekat etnik, kebangsaan, agama, dan golongan sehingga melahirkan solidaritas kemanusiaan universal.
Landasan Teologis Kosmopolitanisme Islam
Gagasan kosmopolitanisme memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an.
“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
(QS. Al-Hujurat 13)
Ayat ini menunjukkan bahwa keberagaman merupakan sunnatullah yang harus menjadi basis interaksi, dialog, dan kerja sama kemanusiaan.
Prinsip tersebut diperkuat oleh firman Allah:
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya 107)
Menurut banyak cendekiawan Muslim, termasuk Nurcholish Madjid dan Azyumardi Azra, ayat ini menegaskan universalitas Islam yang melampaui batas geografis dan identitas komunitas tertentu.
Dalam perspektif Muhammadiyah, universalitas tersebut diwujudkan dalam dakwah yang mencerahkan serta pelayanan kemanusiaan yang ditujukan kepada siapa pun tanpa diskriminasi agama maupun kebangsaan.
Fondasi Kosmopolitanisme dalam Ideologi Muhammadiyah
1. Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah
Dalam Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah ditegaskan bahwa manusia berkewajiban menegakkan masyarakat yang adil dan makmur yang diridhai Allah SWT.
Rumusan ini menunjukkan bahwa orientasi perjuangan Muhammadiyah tidak bersifat eksklusif-komunal, melainkan berorientasi pada perbaikan kehidupan umat manusia secara luas.
Menurut Prof. Haedar Nashir, orientasi tersebut menjadi fondasi moral bagi keterlibatan Muhammadiyah dalam berbagai isu kemanusiaan global, perdamaian dunia, dan keadilan sosial.
2. Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM)
MKCHM menegaskan bahwa Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran Islam yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.
Konsep ini menunjukkan bahwa Islam menurut Muhammadiyah tidak hanya mengatur relasi individual dengan Tuhan, tetapi juga relasi sosial, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Karena itu, agenda Muhammadiyah dalam pendidikan, kesehatan, mitigasi bencana, dan pelayanan sosial merupakan ekspresi dari tanggung jawab universal Islam terhadap kemanusiaan.
3. Risalah Islam Berkemajuan
Dalam Risalah Islam Berkemajuan, Muhammadiyah menekankan pentingnya menghadirkan Islam sebagai kekuatan pencerahan bagi peradaban dunia. Islam Berkemajuan dipahami sebagai:
- berorientasi kepada kemajuan peradaban;
- menghargai ilmu pengetahuan;
- menjunjung keadilan;
- mempromosikan perdamaian;
- membangun kerja sama global.
Nilai-nilai tersebut secara substantif bersesuaian dengan karakter kosmopolitanisme Islam yang menempatkan umat Islam sebagai bagian dari warga dunia (global citizen).
Jejak Historis Kosmopolitanisme Muhammadiyah
Kajian sejarah menunjukkan bahwa sejak awal Muhammadiyah tidak berkembang dalam ruang lokal yang tertutup.
Dalam rapat tahunan Muhammadiyah tahun 1923 bahkan muncul gagasan agar Muhammadiyah memperluas hubungan dengan gerakan Islam di Mesir, India, dan Eropa. Kesadaran ini menunjukkan bahwa horizon pemikiran Muhammadiyah sejak awal telah melampaui batas lokalitas Jawa maupun Indonesia.
Menurut studi Ahmad Najib Burhani, karakter berkemajuan Muhammadiyah berkembang melalui interaksi aktif dengan berbagai arus pemikiran dunia Islam modern sehingga melahirkan watak gerakan yang terbuka, dialogis, dan kosmopolit. Saat ini karakter tersebut tampak melalui:
- keberadaan PCIM di berbagai negara;
- pendirian institusi pendidikan Muhammadiyah di luar negeri;
- aktivitas kemanusiaan global melalui MuhammadiyahAid;
- bantuan bagi Palestina, Rohingya, Turki, Pakistan, dan berbagai wilayah konflik maupun bencana.
Kosmopolitanisme sebagai Manifestasi Islam Berkemajuan
Pandangan kosmopolitan Muhammadiyah berbeda dari liberal kosmopolitanisme Barat yang bertumpu pada individualisme sekuler.
Kosmopolitanisme Muhammadiyah berpusat pada nilai tauhid. Karena seluruh manusia merupakan makhluk Allah, maka seluruh manusia memiliki martabat yang harus dihormati.
Dalam pidato dan tulisan-tulisannya, Haedar Nashir menegaskan bahwa Muhammadiyah harus menjadi bagian dari “warga semesta” (global citizenship) dan membangun dialog antarperadaban demi terciptanya perdamaian dunia. Dalam perspektif ini, kader Muhammadiyah harus memiliki lima karakter:
- Berakidah kuat.
- Berwawasan global.
- Menguasai ilmu pengetahuan.
- Menghargai keberagaman.
- Memiliki komitmen terhadap kemanusiaan universal.
Karakter tersebut merupakan sintesis antara kesalehan religius dan tanggung jawab sosial global.
Kesimpulan
Islam kosmopolitan dalam Muhammadiyah bukanlah gagasan yang berdiri di luar ideologi Persyarikatan. Ia berakar pada prinsip tauhid, universalitas risalah Islam, serta cita-cita Muhammadiyah untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Melalui MKCHM, Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, dan Risalah Islam Berkemajuan, Muhammadiyah membangun orientasi gerakan yang terbuka terhadap dialog peradaban, aktif dalam kemanusiaan global, serta berkomitmen terhadap kemajuan umat manusia. Kosmopolitanisme dengan demikian dapat dipahami sebagai ekspresi kontemporer dari Islam Berkemajuan yang menghubungkan identitas keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan universal.

