113 Tahun Muhammadiyah: Menyalakan Cahaya Islam Berkemajuan di Tengah Gelombang Zaman
1. 113 Tahun: Bukan Sekadar Angka, Tapi Amanah Perjuangan
Yogyakarta, 18 November 1912, menjadi titik tonggak perjalanan panjang persyarikatan. Dari sebuah kampung kecil bernama Kauman, hadir sesosok ulama muda, kharismatik dan visioner, Muhammad Darwis nama kecilnya, yang di kemudian hari dikenal luas dengan nama K.H. Ahmad Dahlan. Seperti karakteristik pemuda pada umumnya, Dahlan muda memiliki keresahan yang bergejolak di dalam hatinya. Kegelisahannya, bukan soal duniawi yang materialistik dan fana, tapi bermuara pada sebuah realitas bahwa umat Islam tertidur panjang dalam kebodohan. Dia resah, bukan karena kehilangan harta, tapi karena umat kehilangan arah.
Praktik keagamaan yang jauh dari tuntunan Qur’an dan Sunnah kian merajalela, mewujud dalam Tahayul, Bid’ah dan Khurafat (TBC). Ajaran agama yang dogmatis, diperparah dengan sikap kultus terhadap para tokoh agama, menjadikan umat terperangkap dalam jebakan taqlid. Umat kehilangan daya nalarnya dalam beragama, sehingga islam hanya sebatas identitas dan ritualitas tanpa makna.
Di sisi lain, kondisi sosial, ekonomi, dan politik umat juga sangat memprihatinkan, sebagai akibat dari penjajahan bangsa barat. Mayoritas umat Islam berada dalam kemiskinan dan jauh dari pendidikan yang layak. Umat Islam di Indonesia tertinggal jauh dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dibandingkan bangsa lain.
Maka, di tengah kejumudan itu, K.H. Ahmad Dahlan bangkit dan bergerak. Terinspirasi dan termotivasi oleh QS. Ali Imran ayat 104, dengan keyakinan dan keberanian moral, dia menyalakan satu cahaya. Cahaya itu bernama Muhammadiyah, gerakan yang membawa harapan baru bagi kemajuan umat dan bangsa.
Muhammadiyah bukan lahir dari kekuasaan, tapi dari keikhlasan. Ia tumbuh bukan karena harta, tapi karena ilmu dan amal saleh. Dari langgar kecil di Kauman, cahaya itu menyebar ke seluruh pelosok negeri. Bertumbuh kembang dan bertransformasi, dari sebuah organisasi lokal, menjadi sebuah organisasi raksasa bertaraf iternasional dengan jangkauan global mendunia, dengan segala peran dan kontribusinya, yang nyata mewujud pada berdirinya sekolah yang mencerdaskan, rumah sakit yang menyembuhkan, dan amal usaha yang menolong siapa saja tanpa membeda-bedakan.
Sampai dengan akhir tahun 2024, tercatat Muhammadiyah mengelola 172 perguruan tinggi, 5.345 sekolah/madrasah, 122 rumah sakit, 231 klinik, 440 pesantren, dan 1.012 panti asuhan, dengan total aset wakaf mencapai 20.465 lokasi dan luas tanah sekitar 214 juta m². Jumlah yang fantastis ini, menunjukkan terus berkembangnya kontribusi Muhammadiyah di berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi.
Setiap pencapaian tersebut merupakan sebuah amanah dari jalan terjal perjuangan yang ditempuh dalam masa yang panjang, sehingga 113 tahun bukan sekadar angka usia, lebih dari itu merupakan sebuah refleksi bagi seluruh insan persyarikatan, sebagaimana difirmankan Allah di dalam Al Quran,
وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ
“Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu…” (QS. At-Taubah : 105)
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap amal dakwah dan pelayanan umat yang kita lakukan selalu dalam pengawasan Allah. Maka, Milad adalah momentum untuk mengevaluasi amal dan memperbarui niat perjuangan.
Dan tentu saja 113 tahun bukanlah akhir perjalanan, namun sebuah awal dari era baru perjalanan dakwah persyarikatan. Dalam rentang waktu lebih dari satu abad, tidak sedikit kiprah dan kontribusi yang sudah diberikan untuk umat, bangsa dan negara. Dan kebermanfaatan tersebut akan terus dihadirkan secara berkelanjutan melalui berbagai usaha, dalam bentuk program, kegiatan dan amal usaha. Hal ini selaras dengan firman Allah di dalam Al Quran,
فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ
“Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain)” (Al-Insyirah : 7)
Dalam ayat ini Allah SWT menekankan pentingnya sebuah kontinuitas, terus bekerja keras dan tidak berdiam diri setelah menyelesaikan satu tugas. Maknanya adalah setelah menyelesaikan satu ibadah, hendaknya melanjutkan ibadah lain, atau setelah urusan dunia, fokuslah pada urusan akhirat, serta selalu berharap dan berdoa hanya kepada Allah SWT.

2. Zaman Berubah, Tapi Misi Tetap Sama
Kini, 113 tahun sudah cahaya itu menyinari Indonesia. Zaman telah banyak berubah. Saat ini kita dihadapkan pada era digital, arus globalisasi, kecerdasan buatan (AI), dan gempuran nilai-nilai baru yang semakin menjauhkan manusia dari makna.
Dunia bergerak begitu cepat. Revolusi digital, kecerdasan buatan (AI), dan media sosial mengubah cara manusia berpikir dan berinteraksi. Maka tantangan baru pun muncul : krisis moral, polarisasi, dan arus informasi yang menyesatkan.
Namun demikian, satu hal yang tidak pernah berubah, yaitu Misi Muhammadiyah untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam, menuju masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Sebagaimana firman Allah :
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Maka, menghadapi zaman baru, Muhammadiyah perlu meneguhkan jati diri, beradaptasi dan fleksibel dalam metode, tapi kukuh dalam prinsip. Sehingga, dakwah Muhammadiyah dapat terus relevan dengan perubahan zaman.
3. Menyalakan Cahaya Pencerahan
K.H. Ahmad Dahlan tidak hanya mengajarkan tafsir Al-Ma’un, tetapi menghadirkannya dalam tindakan nyata. Ia mengajarkan bahwa Islam bukan sekadar ritual, tapi juga mewujud pada kepedulian sosial dan liberasi manusia dari kebodohan serta kemiskinan.
Kini, cahaya persyarikatan harus terus menyala dengan cara-cara membumi dan menjawab persoalan keummatan, seperti :
- Mendidik generasi muda agar cerdas digital dan kuat akhlaknya.
- Menyebarkan konten dakwah yang menyejukkan, bukan menyesatkan.
- Membangun ekonomi umat yang mandiri dan berkeadilan.
- Menjadi teladan moral di tengah krisis integritas.
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِۗ
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”
(QS. Ali Imran: 110)
Ayat ini menegaskan bahwa tugas Muhammadiyah bukan hanya “berdakwah”, tapi juga menjadi teladan dan penuntun umat menuju kemajuan.
4. Islam Berkemajuan: Jalan Tengah yang Mencerahkan
Diresmikan pada Muktamar ke-48 dalam dokumen Risalah Islam Berkemajuan, Islam Berkemajuan adalah wujud pemahaman Islam yang rasional, terbuka, dan berorientasi pada kemaslahatan manusia.
Dari konsep utama dan karakteristik Islam Berkemajuan, kemudian disimpulkan dalam pemaknaan :
- Berpikir maju tanpa kehilangan iman.
- Terbuka pada ilmu dan teknologi tanpa kehilangan moralitas.
- Menjadi rahmat bagi semua, bukan ancaman bagi siapa pun.
Menghadirkan karakteristik gerakan : Gerakan dakwah, tajdid, ilmu, dan amal.
Konsep ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad, Thabrani, dan Daruquthni)
Dengan semangat ini, Islam tidak dimaknai sebagai simbol kekuasaan, tapi energi pencerahan bagi kemanusiaan.
5. Tantangan Umat di Tengah Gelombang Zaman
Umat Islam kini menghadapi tantangan zaman yang tidak mudah, seperti halnya :
- Krisis nilai dan karakter di tengah kemajuan teknologi.
- Kesenjangan ekonomi dan ketergantungan konsumtif.
- Gelombang hoaks dan fitnah yang menggerus ukhuwah.
- Individualisme yang melemahkan solidaritas sosial.
Namun, seperti sabda Nabi ﷺ:
“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya — dan itu selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Gerakan dakwah Muhammadiyah harus kembali mendekap realitas umat, hadir menjadi solusi, bukan hanya simbol.
6. Menghidupkan Kembali Ruh Gerakan
Kekuatan Muhammadiyah sejak awal bukan pada fasilitas, tetapi pada ketulusan dan keberanian moral. Kini, ruh itu harus terus dihidupkan melalui :
- Keikhlasan beramal, bukan mencari posisi.
- Sinergi lintas generasi, agar semangat muda dan kebijaksanaan tua menyatu.
- Kepemimpinan yang melayani, bukan dilayani.
- Gerakan yang kolaboratif dan terbuka, bukan eksklusif.
Sebagaimana pesan K.H. Ahmad Dahlan:
“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”
7. Refleksi untuk Seluruh Warga Persyarikatan
Setiap kita, dalam posisi dan peran apapun, baik itu pimpinan, guru, pengusaha, ibu rumah tangga, mahasiswa, hingga aktivis adalah bagian dari cahaya Muhammadiyah.
Sekarang, mari bertanya pada diri sendiri:
- Apakah amal usaha kita masih menjadi tempat pencerahan?
- Apakah ranting kita masih hidup di tengah masyarakat bawah?
- Apakah kita masih membawa manfaat nyata bagi umat?
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Refleksi ini menjadi kompas agar kita tidak terjebak dalam rutinitas organisasi yang bersifat seremonial, tapi terus menjaga ruh dakwah dan tajdid agar tetap mewarnai setiap gerak langkah persyarikatan.
8. Menatap Masa Depan dengan Optimisme
Memasuki abad kedua, Muhammadiyah harus semakin kokoh sebagai gerakan ilmu, amal, dan peradaban. Langkah strategis ke depan yang dapat ditempuh diataranya :
- Memperkuat pendidikan dan kaderisasi digital.
- Mendorong ekonomi umat berbasis keadilan.
- Mengembangkan riset dan inovasi sosial.
- Membangun kolaborasi lintas bangsa dan agama dalam semangat kemanusiaan.
Sebagaimana janji Allah:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ
“Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan amal orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. At-Taubah: 120)
9. Penutup
113 tahun bukan hanya catatan sejarah, tetapi cermin perjuangan yang harus terus dipoles dengan amal dan ketulusan. Di tengah gelombang zaman, tugas kita bukan sekadar bertahan, tapi menjadi cahaya yang menuntun arah.
Milad ke-113 Muhammadiyah, mengangkat tema : “Memajukan Kesejahteraan Bangsa” dengan tujuan :
- Muhammadiyah melalui gerakannya semakin memperkuat dan memperluas usaha dalam memajukan kesejahteraan masyarakat yang berorientasi pada kesejahteraan sosial-ekonomi;
- Muhammadiyah terus mendorong dan mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah untuk mewujudkan kesejahteraan umum sebagaimana amanat UUD 1945.
Mari kita lanjutkan perjuangan Kiai Dahlan dengan hati yang ikhlas, langkah yang ringan, dan visi yang berkemajuan.
Semoga Allah menjaga Muhammadiyah sebagai gerakan pencerahan, yang terus menyalakan cahaya Islam Berkemajuan. Di hati, di rumah, dan di seluruh penjuru negeri.

