Ke-Muhammadiyah-anTajuk Utama

Membumikan Risalah Islam Berkemajuan Melalui Bulan Ramadhan

Dalam Muhammadiyah, kita mengenal konsep Islam Berkemajuan, yaitu Islam yang menuntun umatnya untuk terus berkembang dalam segala aspek kehidupan dengan tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah. Risalah Islam Berkemajuan diresmikan pada Muktamar ke-48 tahun 2022 di Surakarta, dan diharapkan menjadi rujukan dan pijakan gerakan Persyarikatan Muhammadiyah. 

Islam Berkemajuan bukan sekadar slogan, tetapi sebuah gerakan untuk membangun peradaban yang berlandaskan tauhid, ilmu, dan amal shaleh. Islam Berkemajuan dikembangkan Muhammadiyah atas dasar keyakinan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kemajuan dalam semua aspek kehidupan. Sebagai organisasi yang berdasarkan Islam, Muhammadiyah dan seluruh warganya, terutama para pemimpin, memiliki tanggung jawab untuk senantiasa menguatkan nilai-nilai kemajuan itu dalam pemahaman agama dan perwujudannya dalam kehidupan pribadi, berorganisasi, bermasyarakat, berbangsa, dan berkemanusiaan universal. Dengan Islam Berkemajuan, Muhammadiyah berusaha mengurai sikap yang membelenggu pemahaman Islam dalam satu pandangan sempit yang anti-perubahan. 

Risalah Islam Berkemajuan

Terdapat empat karakter gerakan yang menjadi inti dari Risalah Islam Berkemajuan dan berkorelasi erat dengan bulan Ramadhan sebagai salah satu media riyadhah dalam upaya membumikan Risalah Islam Berkemajuan dalam hidup dan kehidupan, yaitu : 

1) Gerakan dakwah. Umat Islam memiliki kewajiban untuk melanjutkan misi dakwah karena merupakan bagian dari amanah yang diberikan oleh Allah SWT. Hal ini selaras dengan firman Allah dalam QS. Ali Imron 104, yang juga menjadi ayat inspirasi bagi persyarikatan.

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ 

Artinya : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” 

Serta hadits Nabi Muhammad SAW :

Artinya : “Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu rubahlah dengan hatinya dan ini adalah iman yang paling lemah”

Bulan Ramadhan adalah kesempatan terbaik untuk berdakwah. Orang-orang lebih gemar melakukan kebaikan dan mau mendengar dakwah di bulan Ramadhan. Moment ini semestinya digunakan oleh para dai untuk memberikan nasehat dan wejangan. Kesempatan saat kultum Shubuh maupun Tarawih, atau ba’da Zhuhur bisa dimanfaatkan untuk hal tersebut.

2) Gerakan tajdid. Gerakan ini bertujuan untuk memperbaharui cara berpikir umat agar lepas dari kondisi kemiskinan ilmu, kemunduran budaya, dan kemerosotan akhlak. 

Ramadhan merupakan momentum bagi setiap muslim untuk berubah, memperbarui dirinya menjadi muslim yang kaffah, dengan cara memanfaatkan bulan Ramadan melalui penigkatan kuantitas dan kualitas ibadah, memperbanyak amal kebaikan, mendekatkan diri kepada Allah SWT.

3) Gerakan ilmu. Hal ini diwujudkan dalam bentuk pengembangan pusat-pusat keilmuan, riset dan inovasi, dan pertemuan ilmiah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al-Qur’an: 

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ

“Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dari kamu sekalian, dan orang yang diberi ilmu,” (Q. S Al-Mujadalah: 11)

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju surga. Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridho pada penuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, sampai pun ikan yang berada dalam air.

Ramadhan merupakan bulan yang tepat untuk meningkatkan kualitas diri, baik secara spiritual maupun intelektual, dengan menuntut ilmu. Menuntut ilmu di bulan Ramadhan memiliki banyak keutamaan dan pahala yang dilipatgandakan. Sehingga Ramadhan sering juga disebut sebagai bulan tarbiyah (bulan pendidikan).   

4) Gerakan amal. pentingnya pelembagaan amal saleh yang berorientasi pada pemecahan problem-problem kehidupan, seperti lembaga-lembaga kedermawanan, kesejahteraan, pemberdayaan, pendidikan, dan kesehatan.

Ramadhan adalah bulan amal, bulan di mana Allah membuka kesempatan seluas-luasnya bagi kita untuk berbuat kebaikan. Mari kita manfaatkan bulan ini untuk memperbanyak sedekah, zakat, infak, dan berbagai bentuk amal lainnya. Jangan sampai kita melewatkan kesempatan emas ini, karena kita tidak tahu apakah tahun depan kita masih bertemu dengan Ramadhan.

Prof. Haedar Nashir menegaskan bahwa puasa harus memancarkan nilai-nilai kebaikan universal, seperti keadilan ekonomi, keberpihakan pada kaum dhuafa, dan penghormatan pada keberagaman. Program buka bersama yang diadakan Muhammadiyah tidak hanya sebagai ajang silaturahmi internal, tetapi juga bentuk kepedulian pada non-Muslim dan kelompok rentan.

Bagi Muhammadiyah, ibadah shaum Ramadhan dan Risalah Islam Berkemajuan adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Puasa tidak hanya dimaknai sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai laboratorium spiritual-intelektual untuk melahirkan insan yang unggul secara moral-intelektual. Melalui pendekatan yang kontekstual, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat, Muhammadiyah membuktikan bahwa Islam mampu beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan identitasnya sebagai agama rahmatan lil alamin.

KRS – 11 Ramadhan 1446 H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *