Antara Ramadhan, Nonton Bola, dan Prioritas Ibadah
Setiap datangnya bulan Ramadhan, umat Islam menyambutnya dengan harapan, kerinduan, dan kesadaran spiritual yang sangat mendalam. Ramadhan bukan sekadar momentum ritual, melainkan ruang pembinaan jiwa, pengendalian diri, dan perbaikan hubungan dengan Allah.
Paradoks Sosial: Hiburan vs Ibadah
Namun, realitas sosial menunjukkan paradoks yang menggelisahkan: sebagian orang justru lebih bersemangat menonton pertandingan ‘Persib’ daripada memaksimalkan ibadah seperti shalat tarawih, terutama ketika jadwal pertandingan berbarengan dengan waktu tarawih.
Fenomena ini bukan hanya tentang memilih hiburan, melainkan cermin prioritas hidup. Stadion penuh, layar TV ramai, warung kopi sesak oleh sorak-sorai, sementara shaf masjid justru menyisakan ruang kosong.
Kesempatan yang Belum Tentu Kembali
Ironisnya, Ramadhan adalah bulan yang sangat dinanti-nanti oleh seluruh Muslim di dunia, tetapi tidak semua diberi kesempatan untuk menemuinya kembali.
Ada yang telah wafat sebelum Ramadhan tiba (misalnya: Ibu dari Wali Kota Bandung, Farhan), ada yang terbaring sakit tanpa daya, dan ada pula yang secara fisik hidup, tetapi kehilangan kesadaran spiritual.
Menjadikan pertandingan sepak bola sebagai hiburan bukanlah hal yang salah. Islam tidak melarang kegembiraan, olahraga, atau kecintaan terhadap klub kebanggaan daerah. Namun, persoalan muncul ketika hiburan menggeser ibadah dari prioritas utama menjadi yang kedua.
Madrasah Rohani dan Ujian Iman
Ketika seseorang rela melewatkan tarawih demi menonton pertandingan, sesungguhnya ia sedang menyatakan secara tidak sadar bahwa kesenangan dunia lebih penting daripada kesempatan pahala yang hanya datang setahun sekali.
Ramadhan adalah madrasah rohani yang waktunya terbatas. Tarawih bukan sekadar rutinitas, tetapi latihan disiplin iman, ketekunan, ketaatan, dan kecintaan kepada Allah. Bahkan, nilai spiritual Ramadhan tidak dapat digantikan oleh aktivitas apa pun, betapapun meriahnya sorak stadion dan gegap gempita kemenangan tim kesayangan.
Kesenangan Sesaat vs Dampak Abadi
Sebagai masyarakat yang religius, kita perlu mengoreksi diri:
- Apakah kegembiraan yang sesaat ini layak menukar kesempatan ampunan dan rahmat Allah?
- Apakah euforia 90 menit pertandingan pantas mengalahkan ibadah yang dampaknya abadi?
Bijak bukan berarti menolak hiburan, tetapi menempatkannya pada posisi yang tepat. Pertandingan sepak bola akan selalu datang setiap musim, tetapi Ramadhan belum tentu bisa kita jumpai kembali.
Maka, ketika azan Isya berkumandang dan shaf tarawih mulai dirapikan, saat itulah iman kita diuji: kita memilih sorak stadion atau panggilan Pemilik Dunia dan Seisinya ini.
✍️ Lintasan Fikiran, NamanyaAen

